bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda..............."
You know why i hated phoems that much?
They brought sorrows and show sadness.
Brought me like a nothin' in such,
And made me feels useless..
I tried to avoid it at every moments,
Not only in the past but now either.
They just like the side of my cents,
Never apart but belong together..
I don't know why i am writing
Maybe my feelings ask me to.
Instead of showing nothing,
I gotta do what should i do..
"Be gone, be gone all misery", my heart say..
Cos i'll be still and have a pray...
Bandung, 17 Mei 2011
Ketika hujan
Label: emosi
Seberapa sering kalian bilang kalo Hidup itu gak adil? Atau seberapa sering kalian beranggapan Tuhan terlalu keras sama kalian?
Guys....
Gw pernah dipermalukan Hamba Tuhan di Gereja di depan umum untuk kesalahan yang gw tidak ketahui. Gw juga pernah difitnah yang jahat di depan guru-guru gw pas SMA. Pernah juga seorang temen bilang yang gak bener tentang gw. Ada banyak kejadian-kejadian yang gak mengenakkan yang pernah gw alami. Keadaan-keadaan yang membuat gw bertanya pada Tuhan, "Apa iya gw sekuat itu?"
Dan kali ini, gw mengalami kejadian yang nggak mengenakkan lagi. Dipermalukan di milis. Masih oleh Hamba Tuhan ^^
Gw gak marah sih. Wong gw memang salah. Cuma gw menyayangkan aja kenapa gak ada teguran langsung. Alih-alih, langsung diekspos di milis. Seorang teman gw sampe ngamuk-ngamuk karena gak terima gw diperlakukan begini. Gw senyam-senyum karena tidak menyangka, ada yang belain gw mati-matian seperti ini ^^
Sering gw bertanya kepada Tuhan. Kenapa pembelajaran yang gw terima kok kayaknya 'keras' dan 'berat'. Tapi semakin lama gw bertanya seperti itu, rasanya kok ya jadinya mengatur Tuhan. Actually, bosen juga sih. Sering gw gak tau Tuhan mau bawa gw ke mana dan di level mana. Apa iya tingkat kerohanian gw belum cukup kuat dalam menghadapi hidup ini ke depannya?
Telah banyak perenungan yang gw lakukan dalam menemukan maksud di balik ini semua. Tapi tetap terus gagal dan gagal. Tapi ndak bisa nyerah. Heran, kenapa belum nyerah juga gw ya? Ekspektasi Tuhan terlalu besar.
Sori, gw ndak tau mau dibawa kemana tulisan ini. Mungkin juga ndak ada yang bisa ngena buat kalian atau menginspirasi dan memberi makna. Hanya tulisan yang gw tulis karena kegalauan yang gw rasain. Tidak bisa mengharapkan siapapun. Juga orang yang gw cintai. Tidak ada yang bisa mengerti dan menerima gw sepenuhnya. Yang masih bertahan cuma Pria di Atas Sana. Kalau sudah begini, ingin rasanya memanifestasikan keberadaanNya secara eksplisit di depan gw...
Label: renungan
Tadi sore saya bersama 2 orang teman saya mengunjungi sebuah panti. Kali ini bukan panti asuhan seperti yang sering saya datangi. Ini Panti Sosial Tuna Netra Wyata Guna yang ada di Bandung. Dan ini adalah kali pertama saya ke tempat seperti ini. Awalnya diajak temen yang juga diajak temennya. Berhubung sudah lama saya tidak melakukan sesuatu yang baru, ajakan ini saya terima dengan antusias dan sukacita. Pengalaman baru, tentunya cerita baru. Karena itu saya ingin berbagi kepada teman-teman..
Panti ini terdiri dari banyak wisma-wisma. Dinamai seperti nama Burung dan Bunga. Dan seperti cerita saya, ini merupakan tempat dimana banyak anak-anak SD-SMA yang tuna netra. Ada yg total, ada yang parsial. Awalnya saya dan 2 temen saya itu bertujuan untuk membantu teman-teman disana yang sedang mempersiapkan diri untuk SPMB. Ya, mereka juga punya mimpi yang tinggi. Keterbatasan indera penglihatan tidak membatasi mereka mengejar cita-cita yang sama seperti kita. Bahkan, perjuangan mereka lebih besar. Hal yang kembali mengingatkan saya tentang perjuangan..
Saya pikir, sistem pendidikan mereka berbeda. Ternyata sama saja. Mereka mengerjakan soal-soal yang sama. Perbedaannya adalah, mereka membutuhkan orang yang membacakan soal itu kepada mereka. Bedanya lagi, mereka bener-bener bermain dengan pikiran untuk mengerjakan soal itu dengan benar. Dengan kata lain, sistem seperti ini akan sangat banyak terjadi pertaruhan dalam menjawab soal. Karena mereka bermain di pikiran. Bedanya lagi dan lagi, mereka lebih dan lebih memiliki tingkat kerja keras yang lebih tinggi.
Berhubung membaca soal-soal SPMB membuat saya stres dan mati gaya, saya dan teman saya memutuskan untuk berkeliling. Dan kami menyambangi wisma anak perempuan yang rata-rata masih duduk di SD dan SMP. Disinilah perasaan saya bergejolak.
Inilah kali pertama saya mengetahui bagaimana mereka menulis huruf Braille menggunakan jarum dan papan balok khusus. Saya sungguh kagum bagaimana jari-jemari mereka bergerak lincah menulis dan membaca menggunakan huruf Braille. Bahkan, anak terkecil saja sudah mahir membaca dan menulis menggunakan Braille tersebut. Saya memejamkan mata. Saya mencoba meraba tulisan itu. Tidak bertujuan membacanya, tetapi mengetahui apakah jari-jari saya bisa merasakan adanya perbedaan antara huruf satu dengan yang lain. Beberapa menit berlalu, dan ternyata saya tidak bisa. Tuhan memang baik. Jari-jari mereka sangat peka membaca tulisan Braille tersebut. Tuhan tidak hanya ada di gereja..
Saya kemudian membacakan beberapa dongeng untuk seorang anak. Hal yang menarik buat saya. Belum pernah saya membacakan dongeng untuk siapapun, bahkan ke anak sekolah minggu saya sekalipun. Tenggorokan saya kering karena kehausan. Tapi tidak sebanding dengan pengalaman ini..
Tak berapa lama, datanglah seorang anak bernama Dewi. Anak ini baru duduk di kelas 1 SD. Perlu dicatat, dia sudah lancar membaca. Perlu ditambahkan pula, dia mencuci dan menyetrika bajunya sendiri. Anak bungsu dari 3 bersaudara yang datang dari Kab. Kuningan untuk diasramakan di Bandung, di Panti Sosial ini. Perlu diingat, tidak ada tampang sedih ataupun kekecewaan yang terlihat dari muka maupun gestur tubuhnya. Dia bersemangat sekali saat saya memintanya membaca huruf Braille. Saya sudah bener-bener bergejolak saat itu. Di saat hidup yang sering kali saya anggap tidak adil, bagi mereka hidup itu justru seperti "kawan" karib.
Mereka mencuci dan menyetrika baju sendiri. Baik yang besar, maupun yang kecil. Ya, seperti Dewi tadi. Saya tergelitik untuk terus bertanya, bahkan sampai ke pertanyaan-pertanyaan yang bodoh. Mulai dari bagaimana mereka bisa mengetahui yang mana baju mereka di lemari pakaian, bagaimana baju di jemuran tidak tertukar, bagaimana mengenali barang kepunyaan masing-masing dan sebagainya. Jawaban mereka sangat simpel, tegas, dan ringan.,
"DARI BAUNYA,kak"
......"Bagaimana kalo udah dicuci, kan baunya beda?"
"Bau masing-masing khas,kak. Lagipula, bentuk tangan, pinggang, dll beda..."
....."Trus, kalo udah disetrika, kan baunya juga udah gak ada?"
Tersenyum dan berkata,"Baunya gak bisa disembunyiin,kak...."
Saya diam dan terpekur. Tadi jari mereka sangat sensitif. Sekarang hidung mereka juga demikian. Oh....
Dewi, adik kecil yang baru duduk di kelas 1 SD itu kemudian mendengarkan lagu dari HP temannya yang jauh lebih tua. Dia menikmati sekali bernyanyi lagu-lagu Dangdut dan lagu-lagu band Melayu. Dia bersenandung menirukan suara penyanyi di HP itu. Nada yang dia nyanyikan sama sekali tidak sumbang, bahkan cukup bagus. Kekurangannya adalah, lagu tersebut adalah lagu dewasa dengan tema cinta. Sekarang, telinga mereka juga tajam. Eh, apa saya belum bercerita bahwa mereka bisa membedakan suara dan langkah teman-temannya bahkan sebelum teman-temannya bersuara?
------- Sudah panjang ya? Ijinkan saya menambahkan satu hal lagi. Satu hal yang saya harap benar-benar teman-teman pikirkan dengan baik. Terutama bagi teman-teman yang ALAY--------------
Seorang anak tadi, yang kepadanya saya ceritakan dongeng dan bercengkrama (Her name is NITA) tadi memiliki Handphone Nokia, yang bisa bersuara membacakan isi sms. Sungguh membantu mereka mengetahui apa isi sms yang didapatkan. Dan disini saya terus bertanya tentang bagaimana bisa mereka menggunakan Handphone. Pertanyaan bodoh memang. tapi sungguh, saya sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan teman-teman tuna netra ini sesungguhnya.
Sampai suatu kali, Nita meminta pertolongan saya untuk membacakan sebuah sms yang tidak dimengertinya. Bahkan Nokia itupun tidak bisa menterjemahkan apa isi sms ini. Saat membacanya, nyatalah bagi saya ini sms dari orang ALAY yang dengan seenaknya membuat singkatan sendiri, dan menggunakan bahasa gaul sendiri. Sms humor yang membuat Nita tertawa, tapi tidak buat saya. Saya marah. Betapa tidak berempatinya orang-orang yang menyingkat kata dan menggunakan bahasa gaul seenak jidat sendiri. Saya bersyukur bisa menginterpretasikan apa isi sms tersebut dengan melihat isi sms keseluruhan dengan MATA saya. Tapi hal ini tentu sulit untuk mereka yang hanya bisa mengandalkan TELINGA saja. Saya berdoa, semoga orang-orang alay itu segera enyah dari muka bumi ini. Doa yang pasti tidak didengarkan oleh Tuhan...
Itu saja cerita saya. Alasan kenapa saya langsung menuangkannya ke dalam tulisan adalah supaya saya tidak lupa. Akhir-akhir ini ternyata saya semakin tua. Di atas semua itu, saya berharap ada banyak hal yang bisa sama-sama kita pelajari...

Pernah baca buku God is in the Loundry room? Ini semacam buku Chicken Soup gitu. Tapi buat ibu-ibu. Ya,ibu-ibu, kalo menurut gw sih. Karena banyakan yang nyuci adalah ibu-ibu. Menceritakan kisah ibu-ibu yang berkeluh kesah ataupun menemukan Tuhan di ruang cuci. Gw juga mau nulis cerita semacam itu pagi ini, tapi bukan di ruang cuci. Melainkan di KFC. Bukan,sekarang gw bukan di KFC kok (Untuk menghindari nasehat dari teman-teman gw yang baik hati :)).
Cara baca CUCI dan KI-EF-SI memiliki pelafalan yang serupa. Bedanya hanyalah di ruang cuci ada lo sama Tuhan aja. Sedangkan di KFC, ada elo dan mas-mas tukang KFC yang tereak,"Selamat pagiiiii. Apa kabarnya? Selamat datang di KFC. Ada yang bisa dibantu?bla..bla..bla..." dengan senyum lebar yang gw rasa dia pun hampir kena selesma mengucapkan itu. Sungguh kalimat sapaan yang membosankan, mengingat tingkat visitasi gw yang kelewat sering di KFC sini...
Gw addicted dengan KFC. Satu-satunya junkfood yang menurut gw paling enak sedunia, meski belum pernah keliling dunia. Paling pol juga ke Salatiga. Ada kali ya seminggu 3x gw ke KFC. Gw rasa, sudah seharusnya dapat award dari KFC. Dan sudah seharusnya sapaan mas-mas di KFC ke gw seperti ini,
"Wah, mas ganteng datang lagi. Masih menu yang sama,mas? CD Agmonnya masih bagus gak?Kalo udah rusak,kami beri yang baru. Berhubung ini kedatangan mas yang ke 997 kali, kami akan memberi anda bonus boleh main perosotan selama 15 menit. Oya, anda juga boleh mengambil piring dan sedotan sesuka anda. Senang melihat anda kembali...."
Tapi ternyata mereka hanya menjalankan tugas mereka saja. Kasian banget gw ndak dikenal. Tapi ya ndak papa. Paling ndak gw gak perlu mengeluarkan banyak kalimat membalas sapaan itu. Gw datang hanya mau menikmati KFC gw, dan menikmati hubungan gw dengan Tuhan...
Mungkin lo berpikir gw aneh,nyari Tuhan kok di KFC? Kenapa gak di Gereja? Kalo aneh, emang gw udah aneh. Jadi lo ndak perlu sewot tentang masalah itu. Ada banyak orang aneh di dunia ini yang hepi dengan dunia mereka sendiri. Bukan kapasitas kita memberi penghakiman atas diri mereka. Dalam kacamata gw, justru aneh menganggap di KFC gak ada Tuhan. Wong di gereja aja banyak setannya kok. Sebab saban pendeta khotbah, mata gw keliling sana sini mencari tulang rusuk gw. Ulah siapa lagi kalo bukan setan? #Sukurin lo,tan.Sapa suruh jadi setan?
Dalam otak gw, gw selalu ingat bahwa ketika marah, jangan mengeluarkan kalimat-kalimat yang akan menyakiti orang. Bukan hanya mereka saja yang akan tersakiti, tapi dirimu pun akan tersakiti pula pada akhirnya. Karena itu, sebisa mungkin gw akan diam dan minggat entah kemana kalo lagi marah. Cara yang cukup efektif buat kesehatan mental gw. Meski gak sehat buat kesehatan tubuh dan dompet. Gimana enggak, kalo udah di ubun-ubun larinya ke KFC. Oh,gejolak jiwa muda memang berbahaya.
Saat menikmati makanan, hanya gw sendiri. Dan gw bisa berpikir tenang. Gw bisa merenungkan apa yang membuat gw marah atau apa yang membuat mood gw jadi gak baik. Gw juga bisa membuat list yang tersusun di otak tentang dimana letak kesalahan yang gw bikin atau letak kesalahan yang orang lakukan sehingga membuat gw marah (juga sehingga membuat gw pergi ke KFC ini!). Setelah menemukan akar permasalahan dan letak kekeliruannya, gw membuat rencana yang akan gw lakukan setelahnya. Sambil menikmati Pepsi,gw tata kembali mood yang hilang itu. Karena bagaimanapun,sisa-sisa hari gw harus dilewatkan dengan hepi. Kalo ndak hepi,masakan gw kudu ke KFC lagi?
Yang gw pelajari adalah,gw bertambah tua. Semakin tua seharusnya keadaan emosi harus lebih matur dan stabil. Meski tetap saja wajar akan muncul situasi-situasi dimana keadaan itu akan membuat gw bisa marah. Hanya saja perbedaannya adalah, kemarahan yang telah didahului kematangan emosi, akan memampukan gw mengelola kemarahan itu dengan baik. Kalo kata orang Sunda, ANGER MANAGEMENT istilahnya. Itu gw dapatkan saat gw di KFC. Lho, dimana letak ketemu Tuhan-nya kalo gitu?
Lo pikir, gw bisa mempunyai pikiran untuk introspeksi diri, memaafkan diri sendiri dan orang yang membuat gw marah serta bersikap tenang saat makan di KFC itu dari mana kalau bukan dari Tuhan? Mengingat orang introvert seperti gw seringkali kewalahan kalau menangani emosi sesuai kekuatan diri sendiri. Pas balik ke kamar, gw tinggal ambil gitar, mengucap syukur, dan berdoa.
Kalau Tuhan ikut makan di KFC bareng gw, gw akan pesenin Molten Cake buatNYA, selain Attack. Tapi DIA lebih suka mendengar gw ngalor ngidul. Jadi, molten cake itu gw juga yang makan sih pada akhirnya...
Tapi yah, gw memang seharusnya mengurangi makan junkfood begituan. Ndak sesuai dengan apa yang telah gw pelajari selama ini. Memang betul Iman tanpa perbuatan adalah kosong. Mengimani bahwa junkfood gak sehat tapi tetap terus-menerus makan itu sama juga gw gak beriman akan ilmu yang gw dapetin...
Itu saja...
"Terima kasiiiiiiiiih.. Kami tunggu kedatangan anda di KFC berikutnya. Sambal ada disebelah kiriiiiii..."
Ya..ya..ya.. Gw juga sambil merem udah apal lagi,mas tempat sambel nya dimana....
Sore tadi gw ke Panti Asuhan bareng temen gw. Bukan hal yang baru gw ke sini. Sejak pertengahan 2009 gw rutin kesini. Biasanya sih balik gereja gw singgah. Paling nggak 2 jam gw nongkrong disono. Nggak ngapa-ngapain sih. Cuma main-main aja sama mereka. Dan di tahun 2011 ini gw akhirnya kesana lagi, setelah November dan Desember 2010 kemaren gw tidak kesana karena kesibukan luar biasa. Jadi Panti Asuhan ini namanya Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah. Terletak di tengah kota Bandung. Panti asuhan ini bisa dibilang bagus. Bukan hanya dari segi bangunan, tapi pengelolaan. Ada banyak ibu en teteh pengasuhnya. Disamping itu, sangat terbuka untuk menerima kunjungan dari orang luar. Membuat gw senang disitu. Panti asuhan ini terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama untuk anak laki-laki yang sudah berusia diatas 2 tahun. Lantai 2 untuk anak perempuan usia yang sama. Lantai 3 untuk bayi dan batita. Nah, gw kalo ke sini selalu ke lantai 3. Jarang ke lantai satu, apalagi 2. Gak bagus juga sih ya cuma ke lantai 3, tapi ntar lah gw coba ke anak yang lebih besar. Anak-anak disini punya banyak cerita kenapa bisa ada di panti ini. Ada yang dibuang ortunya, ada yang diantar langsung sama ortunya, dll. Yang pasti, gw rasa mereka tidak diinginkan. Kalo diinginkan, mereka tentunya sudah memiliki keluarga. Padahal mereka ini lucu-lucu semua. Gw aja, kalo gw jadi orang kaya, gw adopsi dah mereka semua. Sayangnya gw masih mahasiswa. Bukan hanya itu saja. Anak-anak disini juga gak semuanya normal. Ada yang menderita gangguan saraf, ada yang autis, ada yang anggota tubuhnya (jarinya) tidak lengkap, ada yang keterbelakangan mental. Sungguh, trenyuh melihat keadaan mereka. Tapi mereka tetep tertawa dan hepi. Apalagi kalo digendong dan dipeluk. Benar, pelukan buat anak-anak adalah hal yang sangat efektif menunjukkan dan membagi cinta. Saat pertama gw ke panti ini, gw hanya menggendong beberapa anak saja. Terutama anak-anak yang tidak berkilah. Males gendong anak-anak yang gw rasa aneh, waktu itu. Apalagi anak yang keterbelakangan mental. Selain dari segi fisik (maaf) agak 'berbeda', rasanya serem aja ke-hiperaktif-an nya mengganggu gw. Tapi ada momen dimana saat gw melihat anak itu, gw langsung merasa malu akan diri sendiri. Mengapa gw membeda-bedakan pribadi dari tampilan luar, sedangkan Tuhan saja menerima gw sebagaimana adanya gw. Saat menyadari kekeliruan gw, gw lantas memeluk anak itu, menggendongnya, dan menciumi kepalanya. Sejak saat itu, setiap gw keluar dari lantai 3 ini, semua anak-anak gw gendong dan gw ciumi kepala mereka satu per satu. Tapi gw tidak bisa memungkiri bahwa ternyata ada anak yang gw menarik perhatian gw lebih dari yang lainnya. Dan hal itu membuat gw sadar, bahwa sangatlah wajar jika orangtua memiliki anak kesayangan. Karena gw merasakan demikian. Anak itu adalah EGI dan BINTANG. Dua anak ini memiliki karakter yang berbeda. Egi kalem, Bintang bandel luar biasa. Kesamaan mereka hanyalah, tidak rela kalau gw melepaskan gendongannya. Hahaha, sungguh hal yang menyenangkan bermain bersama mereka. Dan kunjungan gw tadi cukup membuat gw agak sedih, karena ternyata Egi sudah diadopsi. Wah, gw baru tau lho rasanya kehilangan anak itu gimana. Padahal bukan anak gw gitu kan. Dan juga, gw belum punya anak, jadi gak tau gimana rasanya kehilangan. Tapi sedih. Sama saat gw putus cinta, tapi dengan sensasi berbeda. Susah gw jelasin seperti apa, harus kalian rasain sendiri. Gara-gara itu, gw agak hilang minat berlama-lama disitu. Tapi gak terlalu lama juga, karena tingkah batita lain menarik perhatian gw, dan sejenak melupakan Egi. Meski sedih, kata temen-temen gw, gw harusnya seneng karena Egi sudah ada keluarga yang merawatnya. Egi ternyata diinginkan. Iya sih, harusnya memang begitu. Semoga kamu tumbuh sehat dan seneng di keluarga barumu, Gi.....
Label: Anak-anak
Malam minggu...
Planning gw malam ini berubah. Gara-gara salah liat jadwal. And here i am sitting before my laptop. Writing all things that i wish i could conceiving from my mind to this note.
Beberapa minggu belakangan ini gw merenungkan sesuatu yang berkaitan dengan relasi antar manusia. Semuanya beranjak dari pengalaman pribadi dan curhat nya orang-orang di sekeliling gw. Tapi ndak sempat dituangkan dalam tulisan. Skripsi dan tawaran menulis di Twitter sedang menyita perhatian gw saat ini. Namun ketika membaca note seseorang yang begitu mengena, alhasil gw putusin rehat sejenak dari tulisan ilmiah itu ke tulisan humanis seperti ini. Mungkin kali ini gaya bahasa gw tidak sesinting biasanya. Namanya juga hasil perenungan, kawan. Cukup serius agaknya kalau menyangkut hal beginian. Gaya penulisan seperti ini juga gw sukai, selama masih bisa mengejawantahkan apa yg ada di pikiran ke dalam tulisan :)
Pernahkah kalian bertanya dalam diri kalian, mengapa ada orang yang memperlakukan kalian dengan tidak baik atau katakanlah tidak seperti yang kalian harapkan, saat kalian merasa telah memperlakukan mereka dengan sangat baik? Gw yakin, kita semua pernah. Anggaplah itu bukan semata karena kegeeran kita saja sehingga bisa dengan yakinnya mengatakan bahwa kita memang sudah memperlakukan mereka dengan sangat baik. Tapi memang demikianlah adanya bahwa memang kita sudah melakukan itu. Apalagi, jika orang itu begitu dekat dengan kita, begitu kita kasihi/hormati/kagumi. Pendeknya, orang yang berarti bagi kita.
Kita lantas terluka, sakit hati, dan mulai membuat batasan-batasan baru dalam menjalin relasi dengan yang lainnya. Bahkan, bagi orang-orang 'lama' yang berada dalam lingkup relasi kita pun, kita membuat mereka masuk dan mengikuti batasan yang baru kita buat itu. Seolah-olah, ini merupakan langkah terbaik untuk menghindari rasa sakit seperti itu agar tidak datang kembali. Oh, begitu kuatnya rasa sakit itu hingga kita lupa bahwa justru dengan mengalami proses itu, kita akan cukup kuat untuk memberi cinta yang lebih besar lagi.
Kawan....
Pernahkah kalian berpikir bahwa, setiap kita punya kecenderungan untuk melindungi diri kita dari banyak hal yang mengancam keselamatan kita, juga terhadap perasaan kita? Dan itu bukan hanya terhadap hal-hal buruk yang datang. Tapi juga terhadap hal yang baik. Kok bisa? Bisa!Itulah yang mereka, atau kita lakukan saat ada orang yang bersikap baik ke kita.
Saat kita mendapatkan perlakuan baik dari orang yang mengasihi kita, kita menjadi takut. Takut untuk balik mengasihi mereka dengan cinta terbesar yang kita punyai. Kita takut, saat kita sudah benar-benar berlaku demikian, dan mengijinkan mereka masuk dan terlibat jauh dalam kehidupan kita, they mess it up. Kehidupan yang selama ini kita bangun dan kita rasa cukup sempurna, menjadi hancur karena keterlibatan mereka. Yang kita takutkan sedari awal pun terjadi. Lantas kita berkata kepada diri sendiri,"Coba dari awal gw ikutin feeling gw. Jadinya pasti ndak begini..."
Bukankah itu yang mereka lakukan? Orang-orang yang kita katakan kita perlakukan dengan baik tadi, bukankah begitu pula yang mereka pikirkan?
Saat kita memulai interaksi yang baru dengan orang yan datang ke dalam kehidupan kita, sesungguhnya kita sudah mengijinkan mereka untuk terlibat dalam hidup kita ini. Meski, bukan bagian mereka bercampur tangan di dalamnya. Terlibat disini maksudnya adalah menjadi bagian dalam lingkup sosial pribadi. Mungkin kita perlu dengan jujur mengakui bahwa obrolan yang sangat ringan pun dengan mereka sudah membentuk identitas yang menjadi bagian dari diri sendiri. Jika demikian, mengapa kita menyalahkan mereka? Bukankah kita masih manusia yang tetap akan melakukan kesalahan dan tetap tidak akan bisa memuaskan setiap orang?
Bersyukurlah jika mereka membalas kita dengan baik sebagaimana kita memperlakukan mereka sejak awal. Relasi ini akan membantumu untuk lebih belajar mencinta yang lebih lagi.
Bersyukur pula lah jika mereka tidak membalasnya dengan baik. Paling tidak, kau sudah memiliki cinta terbesar yang bahkan mungkin tidak kau sadari. Yang membuatmu cukup tabah dan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak semua orang dapat melakukan hal demikian...
Pada akhirnya ini tentang dirimu sendiri dan Tuhan. Sebaik apapun yang kau lakukan, akan tetap ada orang-orang yang memperlakukanmu dengan tidak baik. Bukan, bukan untuk mengacaukan hidupmu jika hal itu terjadi. Tapi untuk membuatmu mengerti, bahwa hal itu hanya kau dapatkan dalam Tuhan. Jika kau masih saja terus mengharapkan cinta terbesar dari sekelilingmu, dari orang yang kau kasihi, kau hormati, kau kagumi, maka kau tidak akan menyadari apa itu cinta dan bagaimana mencinta.
Jika demikian, mengapa kita membuang waktu dengan kuatir akan bagaimana perlakuan mereka terhadap kita? Mengapa kita tidak membalas dengan yang lebih baik? Bukankah jika kita di posisi sebaliknya, kita berharap mereka melakukan hal yang sama?
Sebuah perenungan yang berasal dari pengalaman pribadi.
Semoga berguna...
Bandung, 27 November 2010
-Reynald-
Label: renungan
